ISLAM KITA -Penyidik kpk novel baswedan mengalami teror siraman air keras. novel disiram usai salat subuh di masjid dekat rumahnya.
"kabar yang aku terima begitu. aku dikabari ibu," kata saudara tertua novel, taufik baswedan , selasa (11/4/2017).
belum diketahui siapa pelaku penyerangan terhadap novel ini. ketika dihubungi via telepon, taufik tengah meluncur ke kelapa gading. rumah noveel baswedan memang berada di kelapa gading.
"ini aku sedang meluncur ke sana," ujar taufik.
novel selama ini menangani kasus-kasus besar yang ada di kpk. dia merupakan penyidik yang dianggap tidak pandang bulu dalam menangani kasus.
salah satu kasus besar yang dikala ini dia tangani merupakan kasus korupsi e-ktp
Baca juga : 1. ngeri-ibu-dan-anak-ditodong-didalam angkot
2. bahaya-memahami-al-quran-hanya-dengan terjemahan
Begini kronologinya
novel baswedan berjalan kaki menuju rumahnya setelah salat subuh di masjid al ikhsan, mirip biasanya. namun ada yang berbeda hari ini, dua orang yang berboncengan di satu motor mengikutinya.
motor itu berjalan pelan dikala berada di dekat novel. lalu, orang yang di belakang menyiramkan cairan yang belakangan diketahui sebagai air keras.
cairan itu mengenai wajah novel. dia sempat lari menghindar, lalu dua orang yang ada di motor kabur.
berikut rentetan kejadian penyiraman air keras terhadap novel mirip dituturkan oleh kapolres jakarta kombes dwiyono:
waktu salat subuh (sekitar pukul 04.35 wib)
novel salat subuh di masjid al ikhsan. masjid itu jauhnya sekitar 30 meter dari rumahnya.
pukul 05.10 wib
novel berjalan pulang ke rumahnya. tiba-tiba ada motor dari belakang yang dinaiki dua orang mendekat. kemudian orang yang ada di motor itu menyiramkan sesuatu ke arah novel. sesuatu yang belakangan diketahui sebagai air keras itu mengenai wajah novel. dua orang yang ada di atas motor itu lalu kabur.
Showing posts with label POLITIK. Show all posts
Showing posts with label POLITIK. Show all posts
Monday, April 10, 2017
Monday, April 3, 2017
MENGAPA Banser Hadang Konvoi HTI ?
ISLAM KITA-Setelah menolak dakwah Ustadz Khalid Basalamah di Sidoarjo tempo hari.. Banser NU kembali "berulah" menolak pawai Hizbut Tahrir HTI di Tenggalek Jawa Timur.
Kontan Banser NU diserang lagi oleh FRAMING -penggiringan opini- yang mulai panas di luar sana. Mari kita kaji bersama secara obyektif, KENAPA Banser melakukan itu semua..
KHALID BASALAMAH
Begitu banyak Dai pendakwah, tapi kenapa Banser HANYA menolak Khalid Basalamah (KB). Mari kita simak berikut ini beberapa materi dakwah KB yang dianggap bermasalah..
1. KB menyerang kajian umat islam lain,
sebut Maulid, Ziarah, Tahlil adalah Sesat
2. KB mengajarkan islam "agama perang"
3. KB halalkan meniduri budak / pembantu
Itu hanya beberapa di antara BANYAK dakwah KB yang bersifat memecah belah dari pada mempersatukan umat. Ini yang menjadi alasan Banser menolak kehadiran KB tempo silam
HIZBUT TAHRIR
HTI - Hizbut Tahrir Indonesia terkenal sebagai ormas islam pengusung 'Khilafah' -Negara Islam- dan mereka terang-terangan menyuarakan itu di ruang publik
1. HTI bilang Khilafah lebih baik dari Pancasila
2. HTI katakan Nasionalisme tidak ada Dalil
3. HTI pernah haramkan hormat bendera
4. HTI anggap Demokrasi produk Kafir
Itu hanya beberapa dari BANYAK pernyataan HTI yang bersifat Anti Pancasila, Anti Nasionalisme, bahkan terkesan Anti NKRI karena ingin mendirikan 'Negara Islam'
Padahal hukum negara sudah jelas menyatakan bahwa mendirikan 'Negara Islam' adalah perbuatan MAKAR, pengkhianatan terhadap bangsa & negara Indonesia
Lalu apa bedanya HTI dengan pemberontakan DI/TII ? Bedanya cuma DI/TII dulu angkat senjata, sedangkan HTI cuma angkat bendera.
JAGA GEREJA
Banser NU juga sering diserang karena tradisi mereka membantu jaga Rumah ibadah umat Kristiani pada saat perayaan-perayaan agama seperti pada waktu Natal
Orang yang antipati sudah pasti sedang berlagak AMNESIA -lupa ingatan- bahwa alasan Banser NU bantu menjaga karena Gereja memang sering jadi sasaran SERANGAN BOM
Hampir setiap tahun selalu ada insiden BOM di Gereja, yang terbaru tahun 2016 kemarin di Samarinda. Era Presiden-Presiden terdahulu lebih parah lagi.. hampir setiap Natal ada Bom
Setelah mengkaji FAKTA-FAKTA yang ada.. Banser menolak KB tujuannya untuk jaga kerukunan umat. Saat Banser menolak HTI, Banser sedang jaga Pancasila. Saat Banser jaga Gereja, Banser sedang bela keutuhan Indonesia
Jadi dimana Banser bikin ulahnya?
Ya, Banser bikin ulah jaga Indonesia
#BanserJagaNKRI
#SayaBanser
CNN: Banser Hadang Konvoi HTI
http://www.cnnindonesia.com/…/konvoi-hizbut-tahrir-indones…/
#SayNoToTerrorism
SUMBER: Tulisan Permadi Arya ( ustadz abu janda al boliwudi )
Apakah bendera HTI merupakan bendera Rosullah ? Begini Penjelasannya
ISLAM KITA- Seperti biasa, para kader, simpatisan baik yang terang-terangan dan diam-diam, ormas Hizbut Tahrir aka #HTI asyik menebarkan gambar yang #AaJojot pasang ini, dan mengklaim ini adalah bendera Kanjeng Nabi.
Sebelum kita bahas secara pelan-pelan dan tumakninah, ada baiknya antum sekalian mengkalibrasi kedua dengkul lebih dahulu, agar tidak tertukar posisi dengan kepala. Bisa digaruk apa semacamnya lah :)
Baiklah, apa benar ini bendera Kanjeng Nabi SAW? Untuk menjawab hal ini, Aa tidak akan memakai kajian hadits yang njelimet dan bisa bikin dengkul puyeng tujuh keliling. Kita pakai kajian sejarah saja, terutama sejarah penulisan huruf Arab.
1. Huruf Arab pada zaman Rasul dan pra Rasul, tidak dituliskan dengan titik dan baris, dan demikianlah al Quran dituliskan dalam mushaf Utsmani. Hal ini tidak menjadi masalah karena saat itu orang Islam masihlah orang Arab yang fasih dalam bahasa Arab.
Ini menjadi masalah ketika Islam mulai tumbuh dan berkembang di kalangan non Arab, dan terjadi kesalahan-kesalahan membaca. Ya bisa kita bayangkan, tanpa titik dan baris, sehingga tidak bisa membedakan mana huruf jim, ha, kho, ta, tsa, nun dst. Belum lagi tanda bacanya.
Baca Juga :1. hati-hati-propaganda-dibalik penggalangan dana online
Jangankan antum yang baru tamat Iqra 3, ulama sekelas Prof KH Said Aqil Siroj yang puluhan tahun "makan" kitab kuning, dengan disertasi yang ditulis dalam bahasa Arab berpredikat "Mumtaz Syaraful Ula" (dengan pujian, karena nahwu sharafnya 100% bebas kesalahan), dalam salah satu ceramahnya, mengaku kebingungan dan gak bisa baca mushaf Quran Utsmani tersebut. Baca lho ya, bukan menghafal..:)
Kalau gak percaya, coba liat disini :
https://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand_Kufic_Quran…
Huruf Arab diberi tanda titik dimulai pada zaman tabiin Abu Aswad al Duali di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib RA (sekitar tahun 656 M), kemudian disempurnakan lagi oleh Al Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (786 M) dan dipakai sampai sekarang.
2. Coba lihat bendera yang diklaim bendera Rasul ini, ada tanda titik dan barisnya? Jangan dijawab dulu, diusap-usap dulu dengkulnya biar agak nyaman.
Ada ya? Kalau ada, maka 1000% ini BUKAN bendera Kanjeng Nabi, kecuali tentara Nabi SAW saat itu bisa loncat ke masa 25 tahun depan, kemudian kembali lagi membawa bendera ini.
Bendera dan Panji Rasul itu berwarna putih dan hitam, polos, tanpa tulisan dan simbol-simbol lainnya.
3. Lantas, ini bendera siapa? Pertanyaan bagus, berarti dengkul antum sudah agak kembali ke posisi yang benar. Jangan kaget dulu dengan jawaban Aa berikut ini ya...
Bendera dengan latar hitam, bertuliskan kalimat syahadat tersebut, baru merebak dipakai sekitar akhir 1990-an, (dengan mengadopsi tradisi penggunaan sebelumnya oleh Taliban/Pashtun) oleh organisasi sebagai berikut :
1. Al Qaeda
(lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Qaeda)
2. ISIS/ISIL, dengan tambahan variasi cap emblem tulisan dalam cincin Rasul
(https://en.wikipedia.org/…/Islamic_State_of_Iraq_and_the_Le…)
3. Jama'at al-Tawhid wal-Jihad
( https://en.wikipedia.org/wiki/Jama%27at_al-Tawhid_wal-Jihad)
4. Boko Haram
5. Hizb Tahrir (last but not least)..
Antum mau mengidentifikasi diri dengan organisasi radikal diatas? Kalau Aa sih tegas katakan "TIDAK!!!", apalagi #ISIS dan Boko(ng) Haram yang melakukan kekejian tak beradab. Mereka inilah yang mencoreng dan menistakan wajah Islam yang sebenarnya.
Jangan mau ditipu pakai bendera, apalagi bendera yang diklaim adalah bendera Kanjeng Nabi.
Kalau dengkul antum mulai senut-senut, coba minta tokoh kartun kapir Doraemon mengeluarkan pil dari kantong ajaibnya!
#StopIslamRadikal #BubarkanHTI
==================
Referensi :
1) Manuskrip Quran Utsman - https://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand_Kufic_Quran
2) Abu Aswad al Duali - https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_al-Aswad_al-Du%27ali
Sumber : Tulisan : Jody Ananda
Sebelum kita bahas secara pelan-pelan dan tumakninah, ada baiknya antum sekalian mengkalibrasi kedua dengkul lebih dahulu, agar tidak tertukar posisi dengan kepala. Bisa digaruk apa semacamnya lah :)
Baiklah, apa benar ini bendera Kanjeng Nabi SAW? Untuk menjawab hal ini, Aa tidak akan memakai kajian hadits yang njelimet dan bisa bikin dengkul puyeng tujuh keliling. Kita pakai kajian sejarah saja, terutama sejarah penulisan huruf Arab.
1. Huruf Arab pada zaman Rasul dan pra Rasul, tidak dituliskan dengan titik dan baris, dan demikianlah al Quran dituliskan dalam mushaf Utsmani. Hal ini tidak menjadi masalah karena saat itu orang Islam masihlah orang Arab yang fasih dalam bahasa Arab.
Ini menjadi masalah ketika Islam mulai tumbuh dan berkembang di kalangan non Arab, dan terjadi kesalahan-kesalahan membaca. Ya bisa kita bayangkan, tanpa titik dan baris, sehingga tidak bisa membedakan mana huruf jim, ha, kho, ta, tsa, nun dst. Belum lagi tanda bacanya.
Baca Juga :1. hati-hati-propaganda-dibalik penggalangan dana online
Jangankan antum yang baru tamat Iqra 3, ulama sekelas Prof KH Said Aqil Siroj yang puluhan tahun "makan" kitab kuning, dengan disertasi yang ditulis dalam bahasa Arab berpredikat "Mumtaz Syaraful Ula" (dengan pujian, karena nahwu sharafnya 100% bebas kesalahan), dalam salah satu ceramahnya, mengaku kebingungan dan gak bisa baca mushaf Quran Utsmani tersebut. Baca lho ya, bukan menghafal..:)
Kalau gak percaya, coba liat disini :
https://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand_Kufic_Quran…
Huruf Arab diberi tanda titik dimulai pada zaman tabiin Abu Aswad al Duali di zaman khalifah Ali bin Abi Thalib RA (sekitar tahun 656 M), kemudian disempurnakan lagi oleh Al Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (786 M) dan dipakai sampai sekarang.
2. Coba lihat bendera yang diklaim bendera Rasul ini, ada tanda titik dan barisnya? Jangan dijawab dulu, diusap-usap dulu dengkulnya biar agak nyaman.
Ada ya? Kalau ada, maka 1000% ini BUKAN bendera Kanjeng Nabi, kecuali tentara Nabi SAW saat itu bisa loncat ke masa 25 tahun depan, kemudian kembali lagi membawa bendera ini.
Bendera dan Panji Rasul itu berwarna putih dan hitam, polos, tanpa tulisan dan simbol-simbol lainnya.
3. Lantas, ini bendera siapa? Pertanyaan bagus, berarti dengkul antum sudah agak kembali ke posisi yang benar. Jangan kaget dulu dengan jawaban Aa berikut ini ya...
Bendera dengan latar hitam, bertuliskan kalimat syahadat tersebut, baru merebak dipakai sekitar akhir 1990-an, (dengan mengadopsi tradisi penggunaan sebelumnya oleh Taliban/Pashtun) oleh organisasi sebagai berikut :
1. Al Qaeda
(lihat https://en.wikipedia.org/wiki/Al-Qaeda)
2. ISIS/ISIL, dengan tambahan variasi cap emblem tulisan dalam cincin Rasul
(https://en.wikipedia.org/…/Islamic_State_of_Iraq_and_the_Le…)
3. Jama'at al-Tawhid wal-Jihad
( https://en.wikipedia.org/wiki/Jama%27at_al-Tawhid_wal-Jihad)
4. Boko Haram
5. Hizb Tahrir (last but not least)..
Antum mau mengidentifikasi diri dengan organisasi radikal diatas? Kalau Aa sih tegas katakan "TIDAK!!!", apalagi #ISIS dan Boko(ng) Haram yang melakukan kekejian tak beradab. Mereka inilah yang mencoreng dan menistakan wajah Islam yang sebenarnya.
Jangan mau ditipu pakai bendera, apalagi bendera yang diklaim adalah bendera Kanjeng Nabi.
Kalau dengkul antum mulai senut-senut, coba minta tokoh kartun kapir Doraemon mengeluarkan pil dari kantong ajaibnya!
#StopIslamRadikal #BubarkanHTI
==================
Referensi :
1) Manuskrip Quran Utsman - https://en.wikipedia.org/wiki/Samarkand_Kufic_Quran
2) Abu Aswad al Duali - https://en.wikipedia.org/wiki/Abu_al-Aswad_al-Du%27ali
Sumber : Tulisan : Jody Ananda
![]() |
| Bendera HTI yang diklaim bendera Rosullah |
Wednesday, March 29, 2017
SALUT !!! Banser dan Pecalang Amankan Perayaan Hari Raya Nyepi
ISLAM KITA - Banser dan Pecalang Kompak Sukseskan Perayaan Nyepi di Bali
Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali, menerjunkan sedikitnya 150 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam rangka perayaan serangkain Hari Raya Nyepi. Kegiatan partisipatif ini tersebar hampir di seluruh Desa di Kecamatan Gerokgak. Keikutsertaan Banser dalam pengamanan ini, sesuai dengan kesepakatan pada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Gerokgak.
Dalam penugasannya, Banser bersama sama dengan Pecalang ikut pengamanan, baik saat pawai ogoh ogoh, maupun saat hari puncak nyepi.
Baca Juga : risalah-sarang-hasil-dari-pertemuan para ulama sepuh
Sekretaris PAC GP Ansor Gerokgak Ahmad Syarifuddin Baharsyah mengatakan penugasan anggota Banser ini semata sata untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama. "Para leluhur kita sudah mewarisi suasana kebersamaan yang begitu nyaman, tidak pernah ada gejolak, sehingga wajib kita mempertahankannya," ujarnya
Pengaman bersama antara Pecalang dan Banser dimulai dari kemarin, Senin (27/8), sehari sebelum Hari Raya Nyepi Selasa (28/3). Sejak kemarin umat Hindu seluruh Bali mengadakan upacara pengrupukan yang ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh di masing masing desa.
Baca Juga: baru-dan-alami16-tips-agar-cepat-hamil
Ogoh ogoh sendiri merupakan mainfestasi dari energi negatif yang kemudian nantinya harus dimusnahkan sebelum masuk pada Catur Bratha Penyepian.
Mulai hari ini tanggal 28 pukul 06.00 Wita segala aktivitas di Pulau Bali akan berhenti, dan akan berakhir pada Pukul 06.00 Wita 29 Maret 2017.
SUMBER : nuonline
Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng Bali, menerjunkan sedikitnya 150 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dalam rangka perayaan serangkain Hari Raya Nyepi. Kegiatan partisipatif ini tersebar hampir di seluruh Desa di Kecamatan Gerokgak. Keikutsertaan Banser dalam pengamanan ini, sesuai dengan kesepakatan pada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kecamatan Gerokgak.
Dalam penugasannya, Banser bersama sama dengan Pecalang ikut pengamanan, baik saat pawai ogoh ogoh, maupun saat hari puncak nyepi.
Baca Juga : risalah-sarang-hasil-dari-pertemuan para ulama sepuh
Sekretaris PAC GP Ansor Gerokgak Ahmad Syarifuddin Baharsyah mengatakan penugasan anggota Banser ini semata sata untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama. "Para leluhur kita sudah mewarisi suasana kebersamaan yang begitu nyaman, tidak pernah ada gejolak, sehingga wajib kita mempertahankannya," ujarnya
Pengaman bersama antara Pecalang dan Banser dimulai dari kemarin, Senin (27/8), sehari sebelum Hari Raya Nyepi Selasa (28/3). Sejak kemarin umat Hindu seluruh Bali mengadakan upacara pengrupukan yang ditandai dengan pawai Ogoh-ogoh di masing masing desa.
Baca Juga: baru-dan-alami16-tips-agar-cepat-hamil
Ogoh ogoh sendiri merupakan mainfestasi dari energi negatif yang kemudian nantinya harus dimusnahkan sebelum masuk pada Catur Bratha Penyepian.
Mulai hari ini tanggal 28 pukul 06.00 Wita segala aktivitas di Pulau Bali akan berhenti, dan akan berakhir pada Pukul 06.00 Wita 29 Maret 2017.
SUMBER : nuonline
Sunday, March 26, 2017
Dr. Zakir Naik ke Indonesia ! Ini Penjelasan Anggota MUI
ISLAM KITA - Seiring akan hadirnya Zakir Naik safari dakwah ke Indonesia, berikut penjelasan salah satu anggota MUI KH. Cholin Nafis
Berikut saya sertakan pertanyaan yang mewakili
1. Apakah bapak mengenal sosok Dr. Zakir Naik ?
2. Komentar bapak mengenai perjalanan dakwah Dr. Zakir Naik di dunia internasional ?
3. Bagaimana tanggapan bapak mengenai rencana safari dakwah Dr. Zakir Naik ke Indonesia ?
4. Harapan komisi dakwah MUI dengan kedatangan Dr. Zakri Naik ke Indonesia ?
1. secara pribadi saya tak kenal dg Dr. Zakir Naik, tapi saya sering menonton debatnya di televisi dan di youtube. Beberapa kali saya melihat di televisi saat berkunjung ke Bangladesh tahun 2011 dan belakangan ini saya acapkali membuka di youtube ceramah dan debatnya.
2. Saya melihat beliau itu ahli di bidang perbandingan agama, sehingga orangnya senang mendiskusikan antar keyakinan. meskipun tak semua keyakinan dapat didialogkan. mungkin hal2 logika dan spiritualitas dapat diperdebatkan tapi kesadaran atau hidayah dalam beragama sepenuhnya adalah kewenangan Allah SWT.
Cara dakwah model Dr. Zakir Naik terasa baik bagi kalangan intelektuan, akademisi atau antar pimpinan umat beragama, Namun bagi kalangan masyarakat awam dapat disalahpahami sebagai penghinaan bagi keyaninan umat lain.
3. Ya. Sebagai sarana menjalin ukhuwah Islamaiyah dan ukhuwah insaniyah tentunya baik sekali safari dakwah Zakir Naik ke Indonesia. Hadirnya Dr. Zakir Naik menjadi sara transfer ilmu dan pengalam bagi aktivis dakwah di Indonesia. Indonesia punya konsep Islam Wasathi yg bisa dikenalkan kepada Dr. Zakir Naik agar dibawa ke negerinya dan disiarkan ke seluruh dunia.
Bagi yg hendak melakukan dialog antar iman bisa menjadi sarana utk mengasah pengetahuan tentang rasionalisasi ajaran agama dan saling memahami tentan konsep keyakinan antar masing2 umat beragama.
4 Kami berharap dengan kunjungan Dr. Zakir Naik ke Indonesia menjadi sarana tukar menukar ilmu dan pengalaman aktifitas dakwah yg menyejukkan dan mendamaikan umat muslim dan menjadi sarana utk menepis tuduhan Islam teroris. Kami berharap jangan sampai kehadiran Dr. Zakir Naik menajdi kontra produktif sehingga menyinggung perasaan apalagi menistakan keyakinan umat beragama lain.
Sumber Berita: Tulisan KH. CHOLIL NAFIS
Berikut saya sertakan pertanyaan yang mewakili
1. Apakah bapak mengenal sosok Dr. Zakir Naik ?
2. Komentar bapak mengenai perjalanan dakwah Dr. Zakir Naik di dunia internasional ?
3. Bagaimana tanggapan bapak mengenai rencana safari dakwah Dr. Zakir Naik ke Indonesia ?
4. Harapan komisi dakwah MUI dengan kedatangan Dr. Zakri Naik ke Indonesia ?
1. secara pribadi saya tak kenal dg Dr. Zakir Naik, tapi saya sering menonton debatnya di televisi dan di youtube. Beberapa kali saya melihat di televisi saat berkunjung ke Bangladesh tahun 2011 dan belakangan ini saya acapkali membuka di youtube ceramah dan debatnya.
2. Saya melihat beliau itu ahli di bidang perbandingan agama, sehingga orangnya senang mendiskusikan antar keyakinan. meskipun tak semua keyakinan dapat didialogkan. mungkin hal2 logika dan spiritualitas dapat diperdebatkan tapi kesadaran atau hidayah dalam beragama sepenuhnya adalah kewenangan Allah SWT.
Cara dakwah model Dr. Zakir Naik terasa baik bagi kalangan intelektuan, akademisi atau antar pimpinan umat beragama, Namun bagi kalangan masyarakat awam dapat disalahpahami sebagai penghinaan bagi keyaninan umat lain.
3. Ya. Sebagai sarana menjalin ukhuwah Islamaiyah dan ukhuwah insaniyah tentunya baik sekali safari dakwah Zakir Naik ke Indonesia. Hadirnya Dr. Zakir Naik menjadi sara transfer ilmu dan pengalam bagi aktivis dakwah di Indonesia. Indonesia punya konsep Islam Wasathi yg bisa dikenalkan kepada Dr. Zakir Naik agar dibawa ke negerinya dan disiarkan ke seluruh dunia.
Bagi yg hendak melakukan dialog antar iman bisa menjadi sarana utk mengasah pengetahuan tentang rasionalisasi ajaran agama dan saling memahami tentan konsep keyakinan antar masing2 umat beragama.
4 Kami berharap dengan kunjungan Dr. Zakir Naik ke Indonesia menjadi sarana tukar menukar ilmu dan pengalaman aktifitas dakwah yg menyejukkan dan mendamaikan umat muslim dan menjadi sarana utk menepis tuduhan Islam teroris. Kami berharap jangan sampai kehadiran Dr. Zakir Naik menajdi kontra produktif sehingga menyinggung perasaan apalagi menistakan keyakinan umat beragama lain.
Sumber Berita: Tulisan KH. CHOLIL NAFIS
Ini Alasannya !! Titik Nol Islam Nusantara Diresmikan Di Barus Sumatera Utara
ISLAM KITA- Presiden Joko Widodo didampingi Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi meresmikan Tugu Titik Nol Islam Nusantara yang terletak dipinggir pantai Barat Sumatera di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Jumat (24/03/2017). Hadir juga Ketua Umum DPP Jam’iyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) sekaligus Rais Syuriyah PBNU Syekh KH Ali Akbar Marbun, Sekjen DPP JBMI Arif R Marbun, Ketua DPW JBMI Sumut Aidan Nazwir Panggabean, tokoh agama, tokoh masyarakat, mantan Ketua DPR RI Akbar Tanjung, sejumlah menteri, FKPD Provsu, Tapanuli Tengah dan undangan.
Sejumlah arkeolog yang tergabung dalam Ecole Francaise D’extreme-Orient (EFEO) Perancis, berkerjasama dengan para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) di Lobu Tua-Barus, berhasil menemukan fakta bahwa pada sekitar abad ke 9-12 M, Barus telah menjadi sebuah padukuhan atau perkampungan multietnis dari pelbagai suku dan bangsa seperti Arab, Aceh, China, India, Jawa, Bugis, Minangkabau dan sebagainya.
Dalam catatan para arkeolog tersebut, Barus juga diidentifikasi memiliki nama lain yakni Fansur. Uniknya, nama Barus sebagai sebuah kota, sudah populer sejak awal-awal abad Masehi. Sejumlah literatur berbahasa Arab, Yunani, Tamil, dan juga China sudah menyebut nama Barus sebagai sebuah kota yang sangat mashur dengan komoditas olahan kayu kamper yang terkenal untuk mengawetkan mayat. Komoditas tersebut kini terkenal dengan nama kapur Barus. Bahkan sejumlah literatur mengatakan bahwa komoditas kapur Barus itu telah diekspor sampai ke Mesir untuk dipergunakan sebagai alat pembalseman mayat pada zaman raja Fir’aun atau sekitar 5.000 tahun sebelum Masehi.
Baca Juga:1. foto-kenangan-saat-presiden-jokowi bersama kh. hasyim muzadi
2. wooow film-bidah-cinta-karya-seorang santri
3. mengenal-kitab-fiqh-perbandingan-mazhab
Wakil Rais Aam KH. Miftakhul Akhyar saat dikonfirmasi soal jejak Islam Nusantara di Barus mengatakan bahwa Barus adalah pintu masuk persebaran Islam di Nusantara. Barus adalah pintu gerbang kedatangan Islam yang sampai hari ini masih lestari di bumi Nusantara. “Barus adalah nol kilometer Islam Nusantara. Di sinilah awal mula agama Islam disebarkan sehingga bisa kita imani sampai hari ini,” tandas Kiai Miftah.
Diolah dari NU Online
Thursday, March 23, 2017
Ridwan Kamil Datangi PBNU Ada Apa ???
ISLAM KITA- Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengaku punya ikatan sejarah dengan Nahdlatul Ulama. Sebab, kakeknya, Kiai Muhyiddin, adalah pejuang kemerdekaan, pernah dipenjara Belanda dua kali di Bandung dan Subang, pemilik empat pesantren, dan merupakan kiai NU. Tak hanya itu, uaknya sendiri juga santri NU.
Jadi, kata dia, tak heran dirinya merapatkan barisan dengan organisasi NU karena leluhurnya juga bergabung di NU. Tak heran jika dia bersilaturahim ke PBNU.
“Pertama tentunya menyambung silaturahim,” katanya ketika ditemui NU Online selepas bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Selasa
Baca Juga : kang-emil-bungkam-status-jonru
seharusnya-anies-menang
ternyata-ra-kartini-pernah-nyantri
Menurut dia, silaturahim itu adalah upaya merapatkan barisan dengan NU karena saat ini ada upaya umat dipecah-belah, orang cenderung mengkafrkan, membenci, dan menebar kemarahan.
Upaya pecah belah umat itu, lanjutnya, terungkap juga dari muhasabah Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri di Masjid Agung Kota Bandung beberapa hari lalu.
“Nah, sebagai wali kota, saya harus berupaya mencari solusi yang fundamental. Salah satunya adalah bersama dengan NU, organisasi yang dari sejarahnya sudah sangat di depan membela NKRI.”
Untuk hal itu, pria yang disapa Kang Emil akan bekerja sama dengan NU di berbagai tingkatan, mulai dari NU Kota Bandung, NU Jawa barat, PBNU dengan menyamakan konsep dan pandangan.
“Alhamdulillah tadi Pak Kiai Said Aqil menyampaikan dukungan terkait itu; NU sebagai benteng terakhir, istilah Gus Dur, kita ini, NU ini, sangat mulia, satpamnya republik,” jelasnya
Jadi, kata dia, tak heran dirinya merapatkan barisan dengan organisasi NU karena leluhurnya juga bergabung di NU. Tak heran jika dia bersilaturahim ke PBNU.
“Pertama tentunya menyambung silaturahim,” katanya ketika ditemui NU Online selepas bertemu dengan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di gedung PBNU, Jakarta, Selasa
Baca Juga : kang-emil-bungkam-status-jonru
seharusnya-anies-menang
ternyata-ra-kartini-pernah-nyantri
Menurut dia, silaturahim itu adalah upaya merapatkan barisan dengan NU karena saat ini ada upaya umat dipecah-belah, orang cenderung mengkafrkan, membenci, dan menebar kemarahan.
Upaya pecah belah umat itu, lanjutnya, terungkap juga dari muhasabah Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri di Masjid Agung Kota Bandung beberapa hari lalu.
“Nah, sebagai wali kota, saya harus berupaya mencari solusi yang fundamental. Salah satunya adalah bersama dengan NU, organisasi yang dari sejarahnya sudah sangat di depan membela NKRI.”
Untuk hal itu, pria yang disapa Kang Emil akan bekerja sama dengan NU di berbagai tingkatan, mulai dari NU Kota Bandung, NU Jawa barat, PBNU dengan menyamakan konsep dan pandangan.
“Alhamdulillah tadi Pak Kiai Said Aqil menyampaikan dukungan terkait itu; NU sebagai benteng terakhir, istilah Gus Dur, kita ini, NU ini, sangat mulia, satpamnya republik,” jelasnya
DIFITNAH !!! Begini Penjelasan KH. Ahmad Ishomuddin Tentang Sidang Ahok
ISLAM KITA- Beberapa waktu lalu saya diminta oleh penasehat hukum bapak BTP (Ahok) untuk menjadi saksi ahli atas kasus penodaan agama yang didakwakan kepadanya. Penasehat hukum dalam UU Advokat juga termasuk penegak hukum di negara konstitusi Republik Indonesia, sebagaimana dewan hakim dan para JPU (Jaksa Penuntut Umum). Karena kesadaran hukumlah saya bersedia hadir dan menjadi saksi ahli dalam sidang ke-15.
Saya menyadari betul dan sudah siap mental menghadapi resiko apa pun, termasuk mempertaruhkan jabatan saya yang sejak dulu saya tidak pernah memintanya, yakni baik sebagai Rais Syuriah PBNU (periode 2010-2015 dan 2015-2020) maupun Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2015-2020), demi turut serta menegakkan keadilan itu. Sebab, sepertinya umat Islam sudah lelah dan kehabisan energi karena terlalu lama mempersengketakan kasus pak BTP (Ahok). Sebagian umat yakin ia pasti bersalah dan sebagian lagi menyatakan belum tentu bersalah menistakan Qs. al-Maidah ayat 51.
Oleh sebab itu, persengketaan dan perselisihan tersebut segera diselesaikan di pengadilan, agar di negara hukum kita tidak memutuskan hukum sendiri-sendiri. Saya hadir, sekali lagi saya nyatakan, di persidangan karena diminta dan karena ingin turut serta terlibat untuk menyelesaikan konflik seadil-adilnya di hadapan dewan hakim yang terhormat.
Baca Juga: kh-hasyim-muzadi-dimata-aktivis muhammadiyah
Saya hadir di persidangan bukan atas nama PBNU, MUI, maupun IAIN Raden Intan Lampung, melainkan sebagai pribadi. Tidak mewakili PBNU dan MUI karena sudah ada yang mewakilinya. Saya bersedia menjadi saksi ahli pada saat banyak orang yang diminta menjadi saksi ahli pihak pak BTP berpikir-pikir ulang dan merasa takut ancaman demi menegakkan keadilan. Dalam hal ini saya berupaya menolong para hakim agar tidak menjatuhkan vonis kepadanya secara tidak adil (zalim), yakni menghukum orang yang tidak bersalah dan membebaskan orang yang salah. Tentu karena saya juga berharap agar seluruh rakyat Indonesia tenang dan tidak terus menerus gaduh apa pun alasannya hingga vonis dewan hakim diberlakukan. Rakyat harus menerima keputusan hakim agar tidak ada lagi anak bangsa ini main hakim sendiri di negara hukum.
Saya hadir sebagai saksi ahli agama karena dinilai ahli oleh para penasehat hukum terdakwa, dan di muka persidangan saya tidak mengaku sebagai ahli tafsir, melainkan fiqih dan ushul al-fiqh. Suatu ilmu yang sudah sejak lama saya tekuni dan saya ajarkan kepada para penuntut ilmu. Namun, itu bukan berarti saya buta dan tidak mengerti sama sekali dengan kitab-kitab tafsir. Alhamdulillah, saya dianugerahi oleh Allah kenikmatan besar untuk mampu membaca dan memahami dengan baik berbagai referensi agama seperti kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, bukan dari buku-buku terjemahan. Semua itu adalah karena barakah dan sebab doa dari orang tua dan para kyai saya di berbagai pondok pesantren.
Saat saya ditanya tentang pendidikan terakhir saya oleh ketua majelis hakim, saya menjawab bahwa pendidikan formal terakhir saya adalah Strata 2 konsentrasi Syari'ah. Saya memang belum bergelar Doktor, meski saya pernah kuliah hingga semester 3 di program S-3 dan tinggal menyusun disertasi namun sengaja tidak saya selesaikan. Jika ada yang menyebut saya Doktor saya jujur dengan mengklarifikasinya, sebagaimana saat orang menyebut saya haji, karena benar saya belum haji. Bagaimana saya mampu berhaji, saya miskin dan banyak orang yang tahu bahwa bahwa saya sekeluarga hidup sederhana di rumah kontrakan yang sempit. Namun sungguh saya tidak bermaksud melakukan pembohongan publik. Saya yakin sepenuhnya bahwa penguasaan ilmu dan kemuliaan itu adalah diberikan oleh Allah kepada para hamba yang dikehendaki-Nya dan karenanya saya tidak pernah merendahkan siapa saja. Titel kesarjanaan, gelar panggilan kyai haji, dan pangkat bagi saya bukanlah segalanya. Saya berusaha menghormati siapa saja yang menjaga kehormatannya. Bagi saya berbeda pendapat adalah biasa dan wajar saja dan karenanya saya tetap menaruh hormat kepada siapa saja yang berbeda dari saya, terutama kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kepada para kyai sepuh.
Baca Juga : kang-emil-bungkam-status-jonru
Dalam persidangan ke-15 itu tentulah saya menjawab dengan benar, jujur, tanpa sedikitpun kebohongan, di bawah sumpah semua pertanyaan yang diajukan, baik oleh Majelis Hakim, para Penasehat Hukum, maupun para para Jaksa Penuntut Umum (JPU). Apabila para saksi, baik saksi fakta maupun saksi ahli, yang diajukan JPU lebih bersifat memberatkan terdakwa karena yakin akan kesalahannya, maka saya sebagai saksi ahli agama yang diajukan oleh para Penasehat Hukum bersifat meringankannya, selanjutnya nanti majelis hakimlah yang akan memutuskannya. Kesaksian itu saya berikan berdasarkan ilmu, sama sekali bukan karena dorongan hawa nafsu seperti karena ingin popularitas, karena uang dan atau keuntungan duniawi lainnya. Sungguh tidaklah adil dan bertentangan dengan konstitusi jika saya disesalkan, dilarang, dimaki-maki, diancam dan bahkan difitnah karena kesaksian saya itu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Sangat disesalkan bahwa gelombang fitnah dan teror telah menimpa saya, terutama di media sosial yang kebanyakan ditulis dan dikomentari tanpa tabayyun. Berita yang beredar tentang diri saya dari sisi-sisi yang tidak benar langsung dipercaya dan segera terburu-buru disebarluaskan. Di antaranya berita bahwa saya menyatakan bahwa Qs. al-Maidah ayat 51 tidak berlaku lagi, tidak relevan, atau expaired. Berita itu berita bohong (hoax). Yang benar adalah bahwa saya mengatakan bahwa konteks ayat tersebut dilihat dari sabab an-nuzulnya terkait larangan bagi orang beriman agar tidak berteman setia dengan orang Yahudi dan Nasrani karena mereka memusuhi Nabi, para sahabatnya, dan mengingkari ajarannya. Ayat tersebut pada masa itu tidak ada kaitannya dengan pemilihan pemimpin, apalagi pemilihan gubernur. Adapun kini terkait pilihan politik ada kebebasan memilih, dan jika berbeda hendaklah saling menghormati dan tidak perlu memaksakan pendapat dan tidak usah saling menghujat. Kata " awliya' " yang disebut dua kali dalam ayat tersebut jelas terkategori musytarak, memiliki banyak arti/makna, sehingga tidak monotafsir, tetapi multi tafsir. Pernyataan saya tersebut saya kemukakan setelah meriset dengan cermat sekitar 30 kitab tafsir, dari yang paling klasik hingga yang paling kontemporer.
Saya sangat mendambakan dan mencintai keadilan. Oleh sebab itu, setiap ada berita penting menyangkut siapa saja, baik muslim maupun non muslim, lebih-lebih jika menyangkut masa depan dan menentukan baik-buruk nasibnya, maka jangan tergesa-gesa di percaya. Untuk menilai secara adil dan menghindarkan kezaliman menimpa siapa pun maka berita itu harus diteliti benar tidaknya dengan hati-hati, wajib dilakukan tabayyun (klarifikasi) kepada pelakunya atau ditanyakan kepada warga di tempat kejadian perkara.
Dalam hal terkait pak BTP (Ahok) saya tahu bahwa dalam mengeluarkan sikap keagamaan yang menghebohkan itu MUI Pusat tidak melakukan tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu, baik terutama kepada pak BTP (Ahok) maupun langsung kepada sebagian penduduk kepulauan Seribu, karena MUI Pusat merasa yakin dengan mencukupkan diri dengan hanya menonton video terkait dan memutuskan Ahok bersalah menistakan al-Qur'an dan Ulama. Padahal dalam al-Qur'an diperintahkan agar umat Islam bersikap adil dan sebaliknya dilarang zalim, kepada siapa saja meskipun terhadap orang yang dibenci. Maka janganlah berlebihan dalam hal apa saja, termasuk jangan membenci berlebihan hingga hilang rasa keadilan.
Baca Juga : hukum-sedekah-kepada-non-muslim
Bila kemudian saya menyatakan pendapat yang berbeda dengan Ketua Umum MUI (KH. Ma'ruf Amin) sebagai saksi fakta dan Wakil Rais Aam PBNU (KH. Miftahul Akhyar) sebagai saksi ahli agama di sidang pengadilan itu, maka itu hal biasa, wajar, dan hal yang lazim saja. Bagi saya berbeda pendapat itu tidak menafikan penghormatan saya kepada dua kyai besar tersebut. Dalam hal yang didasari oleh ilmu, bukan hawa nafsu, berbeda itu biasa dan merupakan sesuatu yang berbeda dari persoalan penghormatan. Sebagai muslim saya terus memerangi nafsu untuk bersikap tawadlu' (rendah hati) sepanjang hayat.
Terhadap setiap pujian kepada saya, saya tidak bangga dan saya kembalikan kepada pemilik semua pujian yang sesungguhnya, Allah ta'ala. Sebaliknya, terhadap caci maki, celaan, fitnah dan apa saja yang menyakiti hati saya tidak kecewa dan tidak takut, karena saya menyadari keberadaan para pencaci di dunia yang sementara ini. Saya harus berani menyampaikan apa yang menurut ilmu benar. Rasanya percuma hidup sekali tanpa keberanian, dan menjadi pengecut. Kebenaran wajib disampaikan, betapa pun pahitnya.
Hanya kepada Allah saya mohon petunjuk dan perlindungan. Semoga kita dijauhkan dari kezaliman, kejahatan syetan (jenis manusia dan jin), dan dijauhkan dari memperturutkan hawa nafsu.
Sumber : Tulisan KH. Ahmad Ishomuddin
RAIS SYURIAH PBNU
Saya menyadari betul dan sudah siap mental menghadapi resiko apa pun, termasuk mempertaruhkan jabatan saya yang sejak dulu saya tidak pernah memintanya, yakni baik sebagai Rais Syuriah PBNU (periode 2010-2015 dan 2015-2020) maupun Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (2015-2020), demi turut serta menegakkan keadilan itu. Sebab, sepertinya umat Islam sudah lelah dan kehabisan energi karena terlalu lama mempersengketakan kasus pak BTP (Ahok). Sebagian umat yakin ia pasti bersalah dan sebagian lagi menyatakan belum tentu bersalah menistakan Qs. al-Maidah ayat 51.
Oleh sebab itu, persengketaan dan perselisihan tersebut segera diselesaikan di pengadilan, agar di negara hukum kita tidak memutuskan hukum sendiri-sendiri. Saya hadir, sekali lagi saya nyatakan, di persidangan karena diminta dan karena ingin turut serta terlibat untuk menyelesaikan konflik seadil-adilnya di hadapan dewan hakim yang terhormat.
Baca Juga: kh-hasyim-muzadi-dimata-aktivis muhammadiyah
Saya hadir di persidangan bukan atas nama PBNU, MUI, maupun IAIN Raden Intan Lampung, melainkan sebagai pribadi. Tidak mewakili PBNU dan MUI karena sudah ada yang mewakilinya. Saya bersedia menjadi saksi ahli pada saat banyak orang yang diminta menjadi saksi ahli pihak pak BTP berpikir-pikir ulang dan merasa takut ancaman demi menegakkan keadilan. Dalam hal ini saya berupaya menolong para hakim agar tidak menjatuhkan vonis kepadanya secara tidak adil (zalim), yakni menghukum orang yang tidak bersalah dan membebaskan orang yang salah. Tentu karena saya juga berharap agar seluruh rakyat Indonesia tenang dan tidak terus menerus gaduh apa pun alasannya hingga vonis dewan hakim diberlakukan. Rakyat harus menerima keputusan hakim agar tidak ada lagi anak bangsa ini main hakim sendiri di negara hukum.
Saya hadir sebagai saksi ahli agama karena dinilai ahli oleh para penasehat hukum terdakwa, dan di muka persidangan saya tidak mengaku sebagai ahli tafsir, melainkan fiqih dan ushul al-fiqh. Suatu ilmu yang sudah sejak lama saya tekuni dan saya ajarkan kepada para penuntut ilmu. Namun, itu bukan berarti saya buta dan tidak mengerti sama sekali dengan kitab-kitab tafsir. Alhamdulillah, saya dianugerahi oleh Allah kenikmatan besar untuk mampu membaca dan memahami dengan baik berbagai referensi agama seperti kitab-kitab tafsir berbahasa Arab, bukan dari buku-buku terjemahan. Semua itu adalah karena barakah dan sebab doa dari orang tua dan para kyai saya di berbagai pondok pesantren.
Saat saya ditanya tentang pendidikan terakhir saya oleh ketua majelis hakim, saya menjawab bahwa pendidikan formal terakhir saya adalah Strata 2 konsentrasi Syari'ah. Saya memang belum bergelar Doktor, meski saya pernah kuliah hingga semester 3 di program S-3 dan tinggal menyusun disertasi namun sengaja tidak saya selesaikan. Jika ada yang menyebut saya Doktor saya jujur dengan mengklarifikasinya, sebagaimana saat orang menyebut saya haji, karena benar saya belum haji. Bagaimana saya mampu berhaji, saya miskin dan banyak orang yang tahu bahwa bahwa saya sekeluarga hidup sederhana di rumah kontrakan yang sempit. Namun sungguh saya tidak bermaksud melakukan pembohongan publik. Saya yakin sepenuhnya bahwa penguasaan ilmu dan kemuliaan itu adalah diberikan oleh Allah kepada para hamba yang dikehendaki-Nya dan karenanya saya tidak pernah merendahkan siapa saja. Titel kesarjanaan, gelar panggilan kyai haji, dan pangkat bagi saya bukanlah segalanya. Saya berusaha menghormati siapa saja yang menjaga kehormatannya. Bagi saya berbeda pendapat adalah biasa dan wajar saja dan karenanya saya tetap menaruh hormat kepada siapa saja yang berbeda dari saya, terutama kepada orang yang lebih tua, lebih-lebih kepada para kyai sepuh.
Baca Juga : kang-emil-bungkam-status-jonru
Dalam persidangan ke-15 itu tentulah saya menjawab dengan benar, jujur, tanpa sedikitpun kebohongan, di bawah sumpah semua pertanyaan yang diajukan, baik oleh Majelis Hakim, para Penasehat Hukum, maupun para para Jaksa Penuntut Umum (JPU). Apabila para saksi, baik saksi fakta maupun saksi ahli, yang diajukan JPU lebih bersifat memberatkan terdakwa karena yakin akan kesalahannya, maka saya sebagai saksi ahli agama yang diajukan oleh para Penasehat Hukum bersifat meringankannya, selanjutnya nanti majelis hakimlah yang akan memutuskannya. Kesaksian itu saya berikan berdasarkan ilmu, sama sekali bukan karena dorongan hawa nafsu seperti karena ingin popularitas, karena uang dan atau keuntungan duniawi lainnya. Sungguh tidaklah adil dan bertentangan dengan konstitusi jika saya disesalkan, dilarang, dimaki-maki, diancam dan bahkan difitnah karena kesaksian saya itu, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Sangat disesalkan bahwa gelombang fitnah dan teror telah menimpa saya, terutama di media sosial yang kebanyakan ditulis dan dikomentari tanpa tabayyun. Berita yang beredar tentang diri saya dari sisi-sisi yang tidak benar langsung dipercaya dan segera terburu-buru disebarluaskan. Di antaranya berita bahwa saya menyatakan bahwa Qs. al-Maidah ayat 51 tidak berlaku lagi, tidak relevan, atau expaired. Berita itu berita bohong (hoax). Yang benar adalah bahwa saya mengatakan bahwa konteks ayat tersebut dilihat dari sabab an-nuzulnya terkait larangan bagi orang beriman agar tidak berteman setia dengan orang Yahudi dan Nasrani karena mereka memusuhi Nabi, para sahabatnya, dan mengingkari ajarannya. Ayat tersebut pada masa itu tidak ada kaitannya dengan pemilihan pemimpin, apalagi pemilihan gubernur. Adapun kini terkait pilihan politik ada kebebasan memilih, dan jika berbeda hendaklah saling menghormati dan tidak perlu memaksakan pendapat dan tidak usah saling menghujat. Kata " awliya' " yang disebut dua kali dalam ayat tersebut jelas terkategori musytarak, memiliki banyak arti/makna, sehingga tidak monotafsir, tetapi multi tafsir. Pernyataan saya tersebut saya kemukakan setelah meriset dengan cermat sekitar 30 kitab tafsir, dari yang paling klasik hingga yang paling kontemporer.
Saya sangat mendambakan dan mencintai keadilan. Oleh sebab itu, setiap ada berita penting menyangkut siapa saja, baik muslim maupun non muslim, lebih-lebih jika menyangkut masa depan dan menentukan baik-buruk nasibnya, maka jangan tergesa-gesa di percaya. Untuk menilai secara adil dan menghindarkan kezaliman menimpa siapa pun maka berita itu harus diteliti benar tidaknya dengan hati-hati, wajib dilakukan tabayyun (klarifikasi) kepada pelakunya atau ditanyakan kepada warga di tempat kejadian perkara.
Dalam hal terkait pak BTP (Ahok) saya tahu bahwa dalam mengeluarkan sikap keagamaan yang menghebohkan itu MUI Pusat tidak melakukan tabayyun (klarifikasi) terlebih dahulu, baik terutama kepada pak BTP (Ahok) maupun langsung kepada sebagian penduduk kepulauan Seribu, karena MUI Pusat merasa yakin dengan mencukupkan diri dengan hanya menonton video terkait dan memutuskan Ahok bersalah menistakan al-Qur'an dan Ulama. Padahal dalam al-Qur'an diperintahkan agar umat Islam bersikap adil dan sebaliknya dilarang zalim, kepada siapa saja meskipun terhadap orang yang dibenci. Maka janganlah berlebihan dalam hal apa saja, termasuk jangan membenci berlebihan hingga hilang rasa keadilan.
Baca Juga : hukum-sedekah-kepada-non-muslim
Bila kemudian saya menyatakan pendapat yang berbeda dengan Ketua Umum MUI (KH. Ma'ruf Amin) sebagai saksi fakta dan Wakil Rais Aam PBNU (KH. Miftahul Akhyar) sebagai saksi ahli agama di sidang pengadilan itu, maka itu hal biasa, wajar, dan hal yang lazim saja. Bagi saya berbeda pendapat itu tidak menafikan penghormatan saya kepada dua kyai besar tersebut. Dalam hal yang didasari oleh ilmu, bukan hawa nafsu, berbeda itu biasa dan merupakan sesuatu yang berbeda dari persoalan penghormatan. Sebagai muslim saya terus memerangi nafsu untuk bersikap tawadlu' (rendah hati) sepanjang hayat.
Terhadap setiap pujian kepada saya, saya tidak bangga dan saya kembalikan kepada pemilik semua pujian yang sesungguhnya, Allah ta'ala. Sebaliknya, terhadap caci maki, celaan, fitnah dan apa saja yang menyakiti hati saya tidak kecewa dan tidak takut, karena saya menyadari keberadaan para pencaci di dunia yang sementara ini. Saya harus berani menyampaikan apa yang menurut ilmu benar. Rasanya percuma hidup sekali tanpa keberanian, dan menjadi pengecut. Kebenaran wajib disampaikan, betapa pun pahitnya.
Hanya kepada Allah saya mohon petunjuk dan perlindungan. Semoga kita dijauhkan dari kezaliman, kejahatan syetan (jenis manusia dan jin), dan dijauhkan dari memperturutkan hawa nafsu.
Sumber : Tulisan KH. Ahmad Ishomuddin
RAIS SYURIAH PBNU
Tuesday, March 21, 2017
SEHARUSNYA ANIES MENANG
Melihat gerakan anti-Ahok yang kian masif dan sistematis, maka sesungguhnya tak ada alasan bagi Anies Baswedan untuk kalah melawan Ahok dalam pilkada DKI putaran kedua.
Berbagai upaya untuk menjatuhkan Ahok telah dilakukan secara maksimal. Bahkan sangat maksimal. Ahok didemo berkali-kali konon oleh puluhan juta orang. Ahok akhirnya diseret ke pengadilan.
Mimbar khutbah dan pengajian banyak berisi cacian pada Ahok, baik berbasis agama maupun etnis. Ketika kampanye, Ahok sering dihadang sehingga Ahok kadang memilih tidak kampanye. Di beberapa forum, Ahok kerap dipermalukan.
Baca juga : ( ada isu-agama-di-pilkada-jakarta )
Tak hanya Ahok. Para pendukung Ahok pun dibuat gentar. Jenazah mereka tak akan dishalatkan. Mereka adalah calon-calon penghuni neraka. Mereka akan kekal di neraka Jahanam bersama Sang Munafik besar zaman Nabi SAW, Abdullah ibn Ubai ibn Salul.
Anies Baswedan pun menegaskan bahwa dirinya bukan Syiah dan bukan juga bagian dari gerakan Islam liberal. Ia dengan mantap berkata bahwa dirinyalah yang mematikan api pemikiran Islam yang berkembang di Universitas Paramadina, perguruan tinggi yang bertumpu pada keislaman, kemodernan dan keindonesiaan.
Untuk menambah elektabilitasnya, Anies belakangan coba duduk bersama dengan Cendana. Mungkin ia berharap, kelompok Soehartois akan tumpah ruah berduyun-duyun memberikan dukungan pada dirinya.
Baca juga : ( kang-emil-bungkam-status-jonru )
Melihat gerakan anti-Ahok dan usaha maksimal Anies Baswedan, seharusnya Anies menang. Dia bahkan bisa meng-KO-kan Ahok. Suara Anies tak lagi 39% seperti pada putaran pertama. Dilihat dari usaha-usaha Anies dan gerakan anti-Ahok yang kian "ganas", maka seharusnya suara Anies di putaran kedua ini mencapai 90%.
Karena itu, jika Anies sampai kalah, maka pasti ada sesuatu yang salah. Wallahu a'lam bis shawab.
Senin, 20 Maret 2017
Salam,
Sumber Berita: Tulisan Abdul Moqsith Ghazali
Berbagai upaya untuk menjatuhkan Ahok telah dilakukan secara maksimal. Bahkan sangat maksimal. Ahok didemo berkali-kali konon oleh puluhan juta orang. Ahok akhirnya diseret ke pengadilan.
Mimbar khutbah dan pengajian banyak berisi cacian pada Ahok, baik berbasis agama maupun etnis. Ketika kampanye, Ahok sering dihadang sehingga Ahok kadang memilih tidak kampanye. Di beberapa forum, Ahok kerap dipermalukan.
Baca juga : ( ada isu-agama-di-pilkada-jakarta )
Tak hanya Ahok. Para pendukung Ahok pun dibuat gentar. Jenazah mereka tak akan dishalatkan. Mereka adalah calon-calon penghuni neraka. Mereka akan kekal di neraka Jahanam bersama Sang Munafik besar zaman Nabi SAW, Abdullah ibn Ubai ibn Salul.
Anies Baswedan pun menegaskan bahwa dirinya bukan Syiah dan bukan juga bagian dari gerakan Islam liberal. Ia dengan mantap berkata bahwa dirinyalah yang mematikan api pemikiran Islam yang berkembang di Universitas Paramadina, perguruan tinggi yang bertumpu pada keislaman, kemodernan dan keindonesiaan.
Untuk menambah elektabilitasnya, Anies belakangan coba duduk bersama dengan Cendana. Mungkin ia berharap, kelompok Soehartois akan tumpah ruah berduyun-duyun memberikan dukungan pada dirinya.
Baca juga : ( kang-emil-bungkam-status-jonru )
Melihat gerakan anti-Ahok dan usaha maksimal Anies Baswedan, seharusnya Anies menang. Dia bahkan bisa meng-KO-kan Ahok. Suara Anies tak lagi 39% seperti pada putaran pertama. Dilihat dari usaha-usaha Anies dan gerakan anti-Ahok yang kian "ganas", maka seharusnya suara Anies di putaran kedua ini mencapai 90%.
Karena itu, jika Anies sampai kalah, maka pasti ada sesuatu yang salah. Wallahu a'lam bis shawab.
Senin, 20 Maret 2017
Salam,
Sumber Berita: Tulisan Abdul Moqsith Ghazali
KANG EMIL BUNGKAM STATUS JONRU !!!
Saat deklarasi Ridwan Kamil sebagai calon gubernur Jabar oleh Partai Nasdem, Jonru kebakaran jenggot. Ia menulis status yang tidak terlalu panjang dengan nada kecewa berat. Mengapa? Sebab, Nasdem adalah partai pendukung Ahok. Itu artinya, Nasdem adalah partai pendukung penista. Masa Ridwan Kamil mau didukung oleh partai pendukung penista.
Jonru menulis:
Selama ini saya mengagumi beliau. Saya sering memuji prestasi beliau. Namun ketika beliau berbuat salah, maka saya pun tak segan-segan mengkritiknya.
Termasuk ketika Ridwan Kamil memutuskan untuk maju di Pilgub Jabar, didukung oleh parpol pendukung penista agama. Hm.. rasanya kekaguman saya untuk Ridwan Kamil harus berkurang cukup besar.
Saya mengagumi kepemimpinan Ridwan Kamil selama ini. Saya mengagumi sikapnya yang humoris, merakyat, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Namun begitu melihat dia mendekat ke Jokowi (ingat kasus ketika dia batal mencalonkan diri sebagai cagub DKI setelah ngobrol dengan Jokowi?), juga setelah dia merapat ke parpol pendukung penista agama, saya jadi paham bahwa politik tetaplah politik, di mana KEPENTINGAN menjadi sesuatu yang paling sakral, jauh lebih sakral di atas IDEALISME.
Bagi Jonru, siapapun yang dekat dengan Jokowi atau pernah dekat dengan Jokowi atau yang pernah ngobrol dengan Jokowi, lalu memiliki pandangan-pandangan politik yang mulai bersebrangan dengan dirinya, orang tersebut harus ikhlas dieksploitasi oleh Jonru.
Baca juga : ( seharusnya-anies-menang )
Tapi sayangnya, Ridwan Kamil enggak mirip dengan Jokowi. Kalau Jokowi yang sudah kenyang digosipin Jonru enggak akan pernah memberikan reaksi. Untuk apa? Wong lagi cari makan. Lebih baik ngurusin embek yang baru lahir. Haha..
Kalau Ridwan Kamil, ia akan sebisa mungkin mengklarifikasi keberataan atau tuduhan orang yang dialamatkan kepada dirinya. Dan saya melihat, status Ridwan Kamil di Facebooknya hari ini merupakan jawaban atas status Jonru yang merasa kecewa.
Apa saja jawaban dari Walikota Bandung ini yang akrab dipanggil Kang Emil.
Menjadi cagub itu resminya jika sudah mendaftar ke KPUD. Dalam perjalanannya masih banyak belokan dan lika-liku. Bisa seperti tokoh-tokoh di Jakarta yang heboh2 di awal ternyata tidak jadi. Bisa seperti yang sudah didkelarasikan eh bisa berubah di hari H-1 oleh nama baru.
Hari ini sebagai independen sifatnya menerima dengan baik aspirasi siapapun yang berniat baik mendukung. Adabnya berterima kasih ketimbang menolak yang terkesan sombong. Toh keputusan pastinya masih jauh. Esok lusa ada tambahan dukungan ya ditunggu, tidak juga ya diterima saja takdirnya.
Kelihatan memang Jonru ini enggak ngeri politik, tapi merasa yang paling tahu. Bisa saja kan Kang Emil sekarang didukung Nasdem, tapi kita tahu kedepannya gimana? Belum lagi masalah Pilpres 2019 dimana getarannya mulai terasa di Jakarta, kini mulai merambat ke Jawa Barat. Jonru ngomongin idealisme padahal politik enggak mengenal itu.
Memangnya, siapa sih yang paling enggak idealis di Pilkada DKI? Ya, orang yang didukung oleh PKS. Dulu punya sikap begini, tapi kini punya sikap yang lain. Dulu bilang rumah murah begini, sekarang malah bilang lain. Dulu bilang “tegas” akan hentikan reklamasi, sekarang akan ikut aturan. Idealisme macam apa ini?
Kalau dilihat dari komposisi pertarungan Pilpres 2019 nanti, Gerindra dan PKS justru yang tidak akan menggandeng Kang Emil untuk maju. Gimana mau maju, Istrinya Kang Aher sudah mulai didaulat. Ingat, politik dalam Bahasa Arab itu bernama “siyasah” yang berarti siasat, adu strategi. Justru Jonru terlalu naïf sekali berbicara idealisme dalam politik.
Kenapa dengan partai ini atuh. Kenapa tidak dengan partai2 terdahulu? karena partai2 terdahulu, sudah dikomunikasikan, namun belum ada jawaban. belum pasti juga mau. dan masing-masing punya jadwal dan prosedur sendiri yang harus dihormati. Boro geer gede rasa pasti didukung, apek teh ternyata teu jadi?
Setiap pilihan situasi politik selalu ada yang suka juga tidak suka. Saya sudah melaluinya di tahun 2013. Setengah pertemanan saya balik kanan karena saya maju pilwalkot didukung partai. Sedih? iya. Tapi saat itu dilalui saja prosesnya dengan ikhlas. Dan dibuktikan dengan bekerja dengan maksimal saat terpilih jadi walikota. Sebagian pertemanan itu tidak balik lagi.
Orang berpikir ini semata syahwat politik? kalo ikut shahwat mah, Bandung sudah ditinggalkan ikut nyagub di DKI kemarin. Tahun depan 2018 itu saya menggenapkan tugas sebagai walikota selama 5 tahun. Selesai on time.
Janji Bandung belum beres? betul. Namun masih ada 2 tahun anggaran 2017 dan 2018 untuk dibelanjakan mengejar sisa mimpi.
Baca juga : ( ada isu-agama-di-pilkada-jakarta )
( wajib-baca-begini-modus-operandi pembobol atm dijepara )
Tidak terpilih lagi? tidak masalah, da saya mah bukan pengangguran. tidak punya niat cari nafkah dari politik. Kembali jadi dosen dan arsitek adalah kebahagiaan yang kembali pulang,
Jadi jika sekarang ada yang bully, “saya akan jadi pembenci akang sekarang”, “maaf saya unfollow” , “bye kang RK” dkk itu sudah takdiran berpolitik. Tidak akan baper. Karena politik adalah cara memperjuangkan nilai dan cita-cita. Dan dalam prosesnya tidaklah akan pernah, sampai kapanpun, menyenangkan semua orang. Tinggal karya dan pengabdian yang akan menjawab semua itu.
Saya sudah kehabisan kata-kata untuk menafsirkan jawaban-jawaban telak Kang Emil ini. Semua keberatan dan rasa kekecewaan Jonru telah terjawab secara lengkap disini.
Memang siapa Jonru itu? Apakah dengan rasa kekecewaannya itu Jabar bisa bebas dari banjir? Apakah dengan kepeduliannya dengan Jabar permasalahan kerusakan hutan lindung di Jabar bisa teratasi?
Siapa Jonru itu? Apakah kendali politik ada di tangannya? Bukankah banyak politisi yang gagal dalam kontestasi politik “gara-gara” foto bareng dengannya? (yang ini asli becanda, hahaha)
Saya bersyukur ada orang seperti Jonru. Mengapa? Pertama, kita bisa mengetahui bahwa masih banyak orang-orang dungu di luar sana yang termakan status-status provokatifnya. Kedua, memudahkan kita untuk memilih pilihan politik. Pokoknya, apa yang sedang dihantam oleh Jonru, itulah yang harus didukung. Ketiga, silahkan diisi yah…
Kalau sudah diisi, nanti ambil sepedanya di TPS 212 Kelurahan Bumi Datar.
statusnya Jonru: https://www.facebook.com/jonru.page/posts/10155262597789729:0
jawaban Kang Emil: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=853665918118564&id=163237587161404
Sumber Berita : Tulisan Muhammad Nurdin
Jonru menulis:
Selama ini saya mengagumi beliau. Saya sering memuji prestasi beliau. Namun ketika beliau berbuat salah, maka saya pun tak segan-segan mengkritiknya.
Termasuk ketika Ridwan Kamil memutuskan untuk maju di Pilgub Jabar, didukung oleh parpol pendukung penista agama. Hm.. rasanya kekaguman saya untuk Ridwan Kamil harus berkurang cukup besar.
Saya mengagumi kepemimpinan Ridwan Kamil selama ini. Saya mengagumi sikapnya yang humoris, merakyat, dan mengutamakan kepentingan rakyat.
Namun begitu melihat dia mendekat ke Jokowi (ingat kasus ketika dia batal mencalonkan diri sebagai cagub DKI setelah ngobrol dengan Jokowi?), juga setelah dia merapat ke parpol pendukung penista agama, saya jadi paham bahwa politik tetaplah politik, di mana KEPENTINGAN menjadi sesuatu yang paling sakral, jauh lebih sakral di atas IDEALISME.
Bagi Jonru, siapapun yang dekat dengan Jokowi atau pernah dekat dengan Jokowi atau yang pernah ngobrol dengan Jokowi, lalu memiliki pandangan-pandangan politik yang mulai bersebrangan dengan dirinya, orang tersebut harus ikhlas dieksploitasi oleh Jonru.
Baca juga : ( seharusnya-anies-menang )
Tapi sayangnya, Ridwan Kamil enggak mirip dengan Jokowi. Kalau Jokowi yang sudah kenyang digosipin Jonru enggak akan pernah memberikan reaksi. Untuk apa? Wong lagi cari makan. Lebih baik ngurusin embek yang baru lahir. Haha..
Kalau Ridwan Kamil, ia akan sebisa mungkin mengklarifikasi keberataan atau tuduhan orang yang dialamatkan kepada dirinya. Dan saya melihat, status Ridwan Kamil di Facebooknya hari ini merupakan jawaban atas status Jonru yang merasa kecewa.
Apa saja jawaban dari Walikota Bandung ini yang akrab dipanggil Kang Emil.
Menjadi cagub itu resminya jika sudah mendaftar ke KPUD. Dalam perjalanannya masih banyak belokan dan lika-liku. Bisa seperti tokoh-tokoh di Jakarta yang heboh2 di awal ternyata tidak jadi. Bisa seperti yang sudah didkelarasikan eh bisa berubah di hari H-1 oleh nama baru.
Hari ini sebagai independen sifatnya menerima dengan baik aspirasi siapapun yang berniat baik mendukung. Adabnya berterima kasih ketimbang menolak yang terkesan sombong. Toh keputusan pastinya masih jauh. Esok lusa ada tambahan dukungan ya ditunggu, tidak juga ya diterima saja takdirnya.
Kelihatan memang Jonru ini enggak ngeri politik, tapi merasa yang paling tahu. Bisa saja kan Kang Emil sekarang didukung Nasdem, tapi kita tahu kedepannya gimana? Belum lagi masalah Pilpres 2019 dimana getarannya mulai terasa di Jakarta, kini mulai merambat ke Jawa Barat. Jonru ngomongin idealisme padahal politik enggak mengenal itu.
Memangnya, siapa sih yang paling enggak idealis di Pilkada DKI? Ya, orang yang didukung oleh PKS. Dulu punya sikap begini, tapi kini punya sikap yang lain. Dulu bilang rumah murah begini, sekarang malah bilang lain. Dulu bilang “tegas” akan hentikan reklamasi, sekarang akan ikut aturan. Idealisme macam apa ini?
Kalau dilihat dari komposisi pertarungan Pilpres 2019 nanti, Gerindra dan PKS justru yang tidak akan menggandeng Kang Emil untuk maju. Gimana mau maju, Istrinya Kang Aher sudah mulai didaulat. Ingat, politik dalam Bahasa Arab itu bernama “siyasah” yang berarti siasat, adu strategi. Justru Jonru terlalu naïf sekali berbicara idealisme dalam politik.
Kenapa dengan partai ini atuh. Kenapa tidak dengan partai2 terdahulu? karena partai2 terdahulu, sudah dikomunikasikan, namun belum ada jawaban. belum pasti juga mau. dan masing-masing punya jadwal dan prosedur sendiri yang harus dihormati. Boro geer gede rasa pasti didukung, apek teh ternyata teu jadi?
Setiap pilihan situasi politik selalu ada yang suka juga tidak suka. Saya sudah melaluinya di tahun 2013. Setengah pertemanan saya balik kanan karena saya maju pilwalkot didukung partai. Sedih? iya. Tapi saat itu dilalui saja prosesnya dengan ikhlas. Dan dibuktikan dengan bekerja dengan maksimal saat terpilih jadi walikota. Sebagian pertemanan itu tidak balik lagi.
Orang berpikir ini semata syahwat politik? kalo ikut shahwat mah, Bandung sudah ditinggalkan ikut nyagub di DKI kemarin. Tahun depan 2018 itu saya menggenapkan tugas sebagai walikota selama 5 tahun. Selesai on time.
Janji Bandung belum beres? betul. Namun masih ada 2 tahun anggaran 2017 dan 2018 untuk dibelanjakan mengejar sisa mimpi.
Baca juga : ( ada isu-agama-di-pilkada-jakarta )
( wajib-baca-begini-modus-operandi pembobol atm dijepara )
Tidak terpilih lagi? tidak masalah, da saya mah bukan pengangguran. tidak punya niat cari nafkah dari politik. Kembali jadi dosen dan arsitek adalah kebahagiaan yang kembali pulang,
Jadi jika sekarang ada yang bully, “saya akan jadi pembenci akang sekarang”, “maaf saya unfollow” , “bye kang RK” dkk itu sudah takdiran berpolitik. Tidak akan baper. Karena politik adalah cara memperjuangkan nilai dan cita-cita. Dan dalam prosesnya tidaklah akan pernah, sampai kapanpun, menyenangkan semua orang. Tinggal karya dan pengabdian yang akan menjawab semua itu.
Saya sudah kehabisan kata-kata untuk menafsirkan jawaban-jawaban telak Kang Emil ini. Semua keberatan dan rasa kekecewaan Jonru telah terjawab secara lengkap disini.
Memang siapa Jonru itu? Apakah dengan rasa kekecewaannya itu Jabar bisa bebas dari banjir? Apakah dengan kepeduliannya dengan Jabar permasalahan kerusakan hutan lindung di Jabar bisa teratasi?
Siapa Jonru itu? Apakah kendali politik ada di tangannya? Bukankah banyak politisi yang gagal dalam kontestasi politik “gara-gara” foto bareng dengannya? (yang ini asli becanda, hahaha)
Saya bersyukur ada orang seperti Jonru. Mengapa? Pertama, kita bisa mengetahui bahwa masih banyak orang-orang dungu di luar sana yang termakan status-status provokatifnya. Kedua, memudahkan kita untuk memilih pilihan politik. Pokoknya, apa yang sedang dihantam oleh Jonru, itulah yang harus didukung. Ketiga, silahkan diisi yah…
Kalau sudah diisi, nanti ambil sepedanya di TPS 212 Kelurahan Bumi Datar.
statusnya Jonru: https://www.facebook.com/jonru.page/posts/10155262597789729:0
jawaban Kang Emil: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=853665918118564&id=163237587161404
Sumber Berita : Tulisan Muhammad Nurdin
ISU AGAMA DI PILKADA JAKARTA
Apakah penggunaan isu agama hanya terjadi saat ini saja dalam sejarah Pilkada Jakarta? Jelas tidak dong cing. Sejak beberapa tahun lalu, sejumlah elite dan tokoh agama dan politik di Jakarta itu (da'i, ustad, aktivis partai, pemimpin ormas, dlsb) hobi banget menggunakan isu agama demi memenangkan jagoan mereka sekaligus menjungkalkan lawan atau rival mereka.
Saya tekankan disini pada "tokoh" atau
"elit" bukan massa. Kalau "massa" itu hanya "kelas
pion" atau cheerleader penggembira grubyak-grubyuk kesana-kemari mengikuti
kemana saja angin atau kentut "majikan" mereka bertiup. Majikannya ya
siapa saja yang menyediakan "nasbung" (tak peduli Muslim-non-Muslim,
aseng tongseng oseng-oseng he he). Modal "massa" ini cuma teriak
sekeras-kerasnya tapi tidak mengerti substansi yang diteriakkan. Pokoknya
teriak. Udah gitu ajah.
Dulu, pada tahun 2007 misalnya, ketika Fauzi Bowo bertarung
melawan Adang Daradjatun yang diusung PKS, isu agama belum begitu tampak karena
baik Fauzi Bowo maupun Adang Daradjatun sama-sama "satu kelas" lah
latar belakang sosial dan kualitasnya. Selain itu, Fauzi Bowo didukung oleh
mayoritas partai yang membuat PKS yang doyan "isu agama" jadi
mengkeret.
Baca juga : ( pembunuh-sahabat-ali-bin-abi-thalib-seorang ahli ibadah )
Pada Pilkada 2012, "isu agama" mulai berhembus
cukup santer didengungkan oleh PKS dan jaringan ustad dan dainya karena bos
mereka Hidayat Nur Wahid ikut berlaga maju sebagai calon gubernur, bertarung
melawan Jokowi (yang berpasangan dengan Ahok) dan Fauzi Bowo. Tema kampanye dan
"pengajian/khutbah politik" waktu itu lebih fokus memilih pemimpin
Islami dan gubernur syar'i. Maksudnya tentu saja untuk mempromosikan,
memasarkan, dan memilih Ustad Hidayat Nur Wahid karena dialah yang dianggap
paling "Islami," "syar'i", dan "Arabi" dibanding
Fauzi Bowo apalagi Jokowi.
Tapi apa lacur, Hidayat keok ndlosor klepek-klepek di
putaran pertama padahal PKS and rombongannya sudah sangat pede abis sambil
membusungkan dada kalau jagoannya mampu meraup lebih dari 50% suara sehingga
mampu memenangkan petarungan dengan mudah. Sim salabim aba gadabra cling eh
ternyata cuma dapat 11% di doi sehingga harus terhempas di putaran pertama.
Pada putaran pertama, Jokowi waktu itu dapat 42%. Sedangkan Fauzi Bowo
memperoleh 34%.
Padahal, Pak Hidayat Nur Wahid adalah sosok yang relatif
cukup populis di kalangan Muslim kota, apalagi kaum mualaf, karena pinter
ngaji, tidak terlibat skandal korupsi (apalagi isu penistaan agama he he),
tampilannya yang sederhana dan tampak "Islami". Pokoknya oke oce lah
waktu itu. Mungkin Tuhan sedang memberi ujian dan cobaan buat beliau dan PKS
supaya lebih bersabar dan tawakal karena hidup ini ternyata tidak datar seperti
bumi.
Baca juga : ( memahami-ibn-khaldun-tokoh idola ceo facebook )
Setelah kalah pada ronde pertama, isu agama mulai kenceng
dihembuskan oleh sejumlah tokoh Muslim dan elit parpol Islami. Kali ini
sasarannya tentu saja Jokowi-Ahok. Waktu itu, mereka bukan hanya menyerang Ahok
yang memang sudah jelas "tapir-aseng" tetapi juga Jokowi yang dituduh
macam-macam: Islam abanganlah, keluarga komunislah. Pokoknya banyak banget.
Meskipun diserang bertubi-tubi, ternyata Tuhan dan
masyarakat Jakarta berkehendak lain: Jokowi-Ahok meraup 54% sehingga
memenangkan laga Pilkada Jakarta. Alhamdulilah ya bos.
Kini, barisan pendukung Anies-Uno sebetulnya adalah
"barisan sakit hati" atau "barisan pasien amnesia". Coba
saja Anda pikir: Anies itu oleh "mereka" dulu dituduh Syiah-liberal,
antek ini-itu. Cuma karena PKS itu miskin kader atau mungkin trauma dengan
pengalaman masa lampau yang jagonya keok, akhirnya terpaksa deh dukung Anies.
Begitu pula, karena para tokoh "Islami" itu juga
tidak punya calon Muslim yang handal dan "syar'i (apalagi Gubernur FPI
Bang Oji juga gak tahu tuh bagaimana kabarnya, dimana rimbanya karena sudah
lama kok gak pulang-pulang menyusul Bang Tayib kali ye he he), akhirnya ya
terpaksa juga deh ikut-ikutan mendukung Anies yang dulu mereka Syiah-liberalkan
itu.
Jadi istilahnya: "Tiada jenggot, jembut pun jadi"
lah he he. Selamat berhari Jum'at...
Sumber berita : Tulisan Prof. Sumanto Al Qurtuby
Subscribe to:
Posts (Atom)














