Wednesday, March 8, 2017

BEGINI CERITANYA KHALED BASALAMAH USTADZ WAHABI SAMPAI DIUSIR BANSER !!!

ISLAM KITA-Mengapa Banser Sidoarjo begitu marah, sampai harus membubarkan pengajian Khaled Basalamah?. Mengapa Banser mau menjaga gereja tapi ada pengajian malah dibubarkan? Bukankah NU toleran? Demikian pertanyaan2 menggugat dan memojokkan, bukan hanya Banser dan Ansor, tapi juga NU.

Kemarin mereka puja puji pd NU krn membela Kiai Ma'ruf Amin ketika sempat tegang dg Ahok. Satu hal yang saya pastikan. Banser tdk akan marah tanpa sebab. Ketika ulama2 NU dihina di medsos, banser langsung bergerak. Tanpa dikomando, Banser langsung mengambil langkah untuk membela ulama panutannya. Mereka tdk teriak-teriak: "Bela ulama!"

Dalam membela dan menjaga nama baik ulama panutan, banser tdk perlu pasang-pasang spanduk minta bela ulama. Memang yg dibela banser bukan sembarang ulama, tp ulama yang pantas jadi panutan. Bukan ulama yg teriak-teriak provokasi sana-sini. Ulama yg dibela Banser juga bukan ulama yang ngemis-ngemis minta dibela. Banser tergerak karena jiwa santri, bukan yang lain.


Mengapa pula Banser harus menjaga gereja? Harus diingat bagaimana awal mula Banser jaga gereja pd awal 2000 an. Waktu itu ketegangan Islam dan Kristen akibat konflik Ambon merebak dimana-mana. Gereja banyak mendapat ancaman bom. Salah satunya gereja di Mojokerto yang diancam bom. Kita ingat, ada anggota banser yg terkena bom. Riyanto namanya. Jadi keterlibatan BANSER menjaga gereja ada bagian dari upaya untuk menjaga NKRI, bukan yang lain. Banyak orang yg gak paham dg hal ini. Terus mengapa banser marah dengan tipe da'i wahabi seperti Khaled Basalamah. Sejarah hubungan NU dan Wahabi kita sudah tahu. Kelompok wahabi selalu menyudutkan praktek Keberagamaan masyarakat NU.

 Kalau saja di Indonesia NU kecil dan kelompok wahabi besar, NU pasti sudah dianggap sbg aliran sesat. Bukankah NU toleran dg kelompok yg berbeda? Betul, NU toleran kepada siapapun sepanjang orang itu tdk mengganggu NU dan ulamanya. Salah satu karakteristik wahabi adalah keusilannya. Mereka tdk bisa hidup ber-koeksistensi dg kelompok lain yang berbeda. Wahabi cenderung mau memang sendiri. merasa benar sendiri. orang yg berbeda dg mazhabnya dituduh macam-macam. Dari
bid'ah sampai kafir. Ketidaksiapan ber-koeksistensi itulah yg menjadikan wahabi selalu mjd sumber konflik.


    Apakah dengan demikian wahabi harus dilarang ? Nggak juga. Wahabi silahkan hidup. Tapi kebiasaan mengolok-olok amaliyah orang lain dihilangkan. Wahabi harus mereformasi diri agar bisa hidup berdampingan dengan damai. Kalau tidak, akan selalu jadi sumber masalah. Kebiasaan merasa paling tahu sunnah nabi, paling tahu al-Quran harus dikurangi. Kalau mau ditoleransi, perlu belajar toleran !.

Percayalah, banser dan NU akan menjadi teman dan sahabat, jika kalian juga bersahabat. Sebaliknya, kalau kalian terus menerus memusuhi NU dan mengolok-olok amaliyah NU, warga NU juga tidak akan tinggal diam. Sekian.


OLEH:
Rumadi Ahmad




Tuesday, March 7, 2017

FATWA BERBEDA IBN ABBAS DALAM KASUS YANG SAMA, BEGINI PENJELASANNYA !

 ISLAM KITA- Ketika Ibn Abbas Berfatwa: Lihat Matanya !

Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu' menuliskan kutipan di bawah ini:

قال الصيمري: إذا رأى المفتي المصلحة أن يفتي العامي بما فيه تغليظ وتشديد وهو مما لا يعتقد ظاهره وله فيه تأويل جاز ذلك؛ زجرا وتهديدا في مواضع الحاجة حيث لا يترتب عليه مفسدة، كما روي عن ابن عباس -رضي الله عنهما- أنه سأله رجل عن توبة القاتل فقال: لا توبة له، وسأله رجل آخر فقال: له توبة، ثم قال: أما الأول فرأيت في عينيه إرادة القتل فمنعته، وأما الثاني فجاء مستكينا قد قتل فلم أقنطه.

Kalau saya narasikan dalam bentuk cerita akan seperti ini:

Lelaki itu menerobos masuk ke Masjid, di tangannya ada sebilah pedang. Di depan jamaah yang mengelilingi Ibn Abbas, lelaki itu bertanya: "Apakah Allah menerima tob4t mereka yang membunuh orang lain ? Ibn Abbas menjawab dengan tenang: "Tentu saja, bukankah Allah itu Maha Pengampun?! Lelaki itu segera berlalu.

Dua jam kemudian lelaki lain tiba-tiba memasuki Masjid. Ada pedang di tangan kanannya. Tanpa mempedulikan jamaah yang ketakutan, lelaki itu bertanya kepada Ibn Abbas, "Apakah Allah menerima tob4t mereka yang membunuh orang lain?" Ibn Abbas dengan tegas menjawab: "Tidak! Allah akan mengazab mereka yang membunuh jiwa tak berdosa!" Lel4ki itu segera berlalu dari Masjid.

Jamaah terp4na dengan dua jawaban berbeda dari Ibn Abbas. "Mengapa anda memberikan fatwa yang berbeda pada pertanyaan yang sama? Apa dalilnya Ya Syekh?" tanya seorang murid.



Baca juga : 1. penasaran-dengan-ustadz-zakir-naik-mari baca sejarah dakwahnya

                    2. kh-hasyim-muzadi-dimata-aktivis muhammadiyah
Ibn Abbas menjawab: "lihat saja sorot mata kedua lelaki tersebut. Yang pertama, sorot matanya penuh penyesalan. Boleh jadi dia baru saja membunuh orang, dia ingin tahu apakah Allah akan menerima tobatnya setelah apa yang dia lakukan. Tentu saja aku sampaikan padanya bahwa ampunan Allah itu sangat luas. Adapun lelaki kedua sorot matanya penuh amarah. Dengan bertanya padaku boleh jadi dia punya rencana untuk membunuh orang lain. Sebelum peristiwa itu terjadi, aku harus memberikan fatwa yang bisa menghalangi rencana jahatnya."

Begitulah hebatnya seorang Mufti. Dia harus tahu kapan bersikap lunak dan kapan tegas. Itu semua membutuhkan bukan saja pengetahuan akan ilmu keislaman tapi juga bacaan akan kondisi psikologis penanya, konteks sosiologis umat, dan hal-hal terkait lainnya.

Anda ingin fatwa yang halal atau fatwa yang haram? Fuqaha akan memberikan jawabannya, bukan semata-mata berdasarkan dalil, tapi juga sesuai dengan situasi dan kondisi. Komitmen mereka bukan pada konsistensi, tapi pada kebenaran --yang seringkali situasional, kondisional dan tergantung kasus serta urgensinya. Jawaban mereka yang anda anggap berbeda itu sebenarnya bisa dikembalikan kepada maqashid al-syari'ah.

Kisah Ibn Abbas di atas juga diceritakan oleh Imam al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya:

أخبرنا أبو مالك الأشجعي عن سعد بن عبيدة قال : جاء رجل إلى ابن عباس فقال ألمن قتل مؤمنا متعمدا توبة ؟ قال : لا ، إلا النار ؛ قال : فلما ذهب قال له جلساؤه : أهكذا كنت تفتينا ؟ كنت تفتينا أن لمن قتل توبة مقبولة ؛ قال : إني لأحسبه رجلا مغضبا يريد أن يقتل مؤمنا . قال : فبعثوا في إثره فوجدوه كذلك . وهذا مذهب أهل السنة وهو الصحيح

Bukan saja Imam Qurtubi mencantumkan sanad kisah Ibn Abbas di atas, tapi beliau juga memberi komentar: "inilah mazhab ahlus sunnah dan ini shahih!"

Imam Nawawi menuliskan satu kutipan penting lagi di bawah ini dalam kitab al-Majmu'

‎قال : وذكر صاحب الحاوي أن المفتي إذا نابذ في فتواه شخصا معينا صار خصما حكما معاندا ، فترد فتواه على من عاداه كما ترد شهادته عليه

"[Ibn Shalah] berkata bahwa pengarang kitab al-Hawi telah mengingatkan jika seorang mufti menunjukkan kebenciannya kepada seseorang maka fatwanya ditolak terhadap orang itu, begitu juga kesaksiannya tentangnya."

Di sinilah pentingnya mufti memandang umat dengan pandangan cinta, bukan pandangan kebencian. Fatwa yang berpotensi menimbulkan kemudaratan harus dikalkulasi ulang karena setiap fatwa akan ada konsekuensinya. Apalagi fatwa yang dikeluarkan berdasarkan sentimen kebencian dan tanpa proses tabayyun.

Ibn Abbas mengajarkan para ulama untuk melihat sorot mata orang yang meminta fatwa. Ibn Shalah mengingatkan para ulama untuk tidak memandang orang dengan kebencian karena nanti fatwanya pun bernuansa kebencian.

Kebenaran itu berlapis-lapis seperti yang Allah ceritakan dalam kisah Nabi Khidr dan Nabi Musa. Anda boleh memilih menjadi Nabi Khidr atau Nabi Musa, tidak mengapa, asalkan anda jangan memilih menjadi Fir'aun yang selalu merasa benar; tidak pernah merasa salah. Percayalah, sorot mata Khidr, Musa dan Fir'aun itu berbeda kok :)

Salam sejahtera dengan penuh kasih sayang,

Oleh:
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Wednesday, March 1, 2017

BEGINI !!! SIKAP SAHABAT NABI SAIDINA ALI SAAT BERSENGKETA DENGAN ORANG YAHUDI

ISLAM KITA- Ada baiknya kita mengenang kisah Ali bin Abi Thalib. Ketika beliau melihat rompi perangnya dibawa oleh seorang yahudi, Beliau memintanya dan Yahudi itu menolak memberikan rompi perang itu. Sayyidina Ali meminta kasus ini diselesaikan di hadapan hakim.


Pelajaran pertama (1): Sayyidina Ali ra. tercatat sebagai sahabat terbaik Nabi, Panglima di enam puluh tiga (63) ekpedisi peperangan Islam dan Iowa menang. Serta beliau terkenal sebagai bencana bagi para musuh-musuh Islam. Beliau tidak ambil cara kasar dan main hakim sendiri. Beliau menghargai kontrak sosial dan konstitusi pemerintahan yang sah.


Setelah dihadapkan pada hakim, Yahudi tersebut ngotot bahwa rompi itu adalah miliknya. Dan Sayyidina Ali membela diri dengan memohon kehadiran saksi untuk menjustifikasi pembelaannya, bahwa rompi itu miliknya (pemberian Dari Rasulullah).


Sayyidina Ali meminta Hakim untuk menghadirkan Qunbur, budaknya dan Hasan, anaknya untuk menjadi saksi dalam persidangan tersebut. Yahudi itu keberatan,dan dia  katakan bahwa tak selayaknya anak seorang tersangka dan budak seorang tersangka di jadikan saksi untuk meringankan. Hakim pun mengamini pendapat Yahudi tersebut.


Dengan penuh kehormatan dan hati yang lapang, Sayyidina Ali berdiri Dari kursi persidangan dan mengatakan "Hasan anakku adalah calon pengawal pemuda surga, bila tidak bisa menjadi saksi, maka Kwa tak punya saksi"


Pelajaran kedua (2): Saksi, semulia apapun bila kemungkinan keberpihakannya tinggi, tidak sah di mata konstitusi.


Cerita itu selesai ketika Sayyidina Ali mengatakan kepada si Yahudi "Ambil rompi besi itu" dan si Yahudi menghampiri Sayyidina Ali seraya memeluknya dan mengungkapkan kalimat-kalimat kekaguman, bahwa tak mungkin  seorang yang berlapang dada lebih Dari ini dan dengan segala kekuatannya beliau justru berprilaku sangat lembut dan mentaati hukum.


Baca Juga : 1. ini-alasannya-titik-nol-islam-nusantara ada di sumatera utara

                     2. pengen-segera-dapat-jodoh-lakukan ini
Pelajaran ketiga (3): Sayyidina Ali paham betul bahwa tak selamanya kebenaran harus diperjuangkan. Masa di mana nilai-nilai yang menjadi maslahat dan berdampak lebih besar harus diutamakan ketimbang sekedar memperjuangkan kebenaran yang sederhana.


Oleh Sayyidina Ali, moment tersebut dijadikan ajang pamer kemuliaan ajaran Nabi Muhammad. Dengan kebesaran hatinya, setiap orang akan menilai bahwa sesuatu yang berharga dalam diri Sayyidina Ali dan Islam menjadi sangat terhormat dalam genggamannya.


Sobat bisa bayangkan, bila seorang Hasan bin Ali bin Abi Thalib (calon pengawal pemuda surga) ditolak sebagai saksi, hanya karena kemungkinan keberpihakannya tinggi. Betapa hancurnya akal sehat sebuah persidangan yang menghadirkan saksi, seorang tersangka sedari awal telah terang-terangan memusuhi tersangka.


Dan boleh juga jadi bahan renungan kita semua, tentang arti penting sebuah "perjuangan" agar tidak jadi bola api liar kemudian bergulir kesana-kemari, membakar apapun yang dilaluinya. Sementara harapan kejayaan Islam yang dimaksudkan oleh orang banyak di sini, belum jelas ke mana arahnya dan siapa junjungannya.


Sumber: Tulisan Habib Acin Muhdor

Notes:

Di Indonesi banyak sekali keturunan (dzurriyat) Nabi dari jalur keturunan imam Ali, tetapi adakah yang berakhlaq seperti imam Ali? Mungkin dia bangga "membantai" seorang tersangka dalam suatu persidangan sebagai saksi Ahli tapi dia sama sekali tak mencerminkan akhlaq imam Ali, meski berkoar dirinya keturunan imam Ali.